Jumat, 18 November 2011

TEORI PSIKOLOGI TENTANG PERKEMBANGAN ANAK...

Teori Psikososial tentang Perkembangan

Seperti telah kita kemukakan, perkembangan berlangsung melalui tahap-tahap — seluruhnya ada delapan tahap menurut jadwal yang dikemukakan Erikson. Empat tahap yang pertama terjadi pada masa bayi dan masa kanak-kanak, tahap kelima pada masa adolesen, dan ketiga tahap yang terakhir pada tahun-tahun dewasa dan usia tua. Dalam tulisan-tulisan Erikson, tekanan khusus diletakkan pada masa adolesen karena masa tersebut merupakan peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Apa yang terjadi pada tahap ini sangat penting bagi kepribadian dewasa. Identitas, krisis-krisis identitas. dan kekacauan identitas merupakan konsep-konsep Erikson yang sangat terkenal.

Harus dicatat bahwa tahap-tahap yang berurutan itu tidak ditetapkan menurut suatu jadwal kronologis yang ketat. Erikson berpendapat bahwa setiap anak memiliki jadwal waktunya sendiri, karena itu akan menyesatkan kalau ditentukan lama berlangsungnya secara eksak masing-masing untuk setiap tahap. Lagi pula, setiap tahap tidak dilewati dan kemudian ditinggalkan. Sebaliknya masing-masing tahap ikut serta dalam membentuk seluruh kepribadian. Meminjam kata-kata Erikson,

“… apa saja yang tumbuh memiliki sejenis rencana dasar, dan dari rencana dasar ini muncullah bagian-bagian, setiap bagian memiliki waktu masing-masing untuk mekar, sampai semua bagian bersama- sama ikut membentuk suatu keseluruhan yang berfungsi” (1968, him. 92).

Ini dikenal sebagai prinsip epigehetik (epigenetic principle), suatu istilah yang dipinjam dari ilmu mudigah (embriologi).
Dalam menguraikan kedelapan tahap perkembangan psikososial, kami menghimpun dan mengutip bahan dari empat sumber. Dalam Childhood and Society (1950, 1963), dan kemudian dalam Identity: Youth and Crisis (1968), Erikson membagi tahap- tahap itu berdasarkan kualitas dasar ego yang muncul pada masing-masing tahap. Dalam Insight and Responsibility (1964) ia membicarakan kebajikan-kebajikan atau kekuatan-kekuatan ego yang muncul selama tahap-tahap yang berturutan. Dalam bukunya yang terbaru, Toys and Reasons (1976), ia menguraikan ritualisasi yang khas untuk masing-masing tahap. Ritualisasi yang dimaksudkan Erikson adalah suatu cara serba main-main (play- ful) namun dipolakan oleh kebudayaan dalam mengerjakan atau mengalami sesuatu dalam pergaulan sehari-hari antara individu- individu. Maksud utama ritualisasi-ritualisasi ini ialah menjadi- kan individu yang sedang matang anggota masyarakat yang efektif dan tidak canggung. Sayang, ritualisasi-ritualisasi dapat menjadi kaku dan menyeleweng serta berubah menjadi ritualisme-ritualisme.

I. Kepercayaan Dasar versus Kecurigaan Dasar
Kepercayaan dasar yang paling awal terbentuk selama tahap sensorik-oral dan ditunjukkan oleh bayi lewat kapasitasnya untuk tidur dengan tenang, menyantap makanan dengan nyaman, dan membuang kotoran dengan santai. Setiap hari, manakala jam-jam jaganya meningkat, bayi itu menjadi semakin biasa dengan pengalaman-pengalaman inderawi dan keterbiasaannya ini dibarengi dengan perasaan senang. Situasi-situasi yang menyenangkan dan orang-orang yang bertanggungjawab menimbulkan kenyamanan ini menjadi akrab dan dikenal oleh bayi. Berkat kepercayaan dan keakrabannya dengan orang yang menjalankan fungsi keibuan ini, maka bayi tersebut mampu menerima bahwa orang tersebut mungkin tidak ada untuk sementara waktu. Prestasi sosial pertama yang dicapai bayi tersebut mungkin karena ia mengembangkan suatu kepastian dan kepercayaan dalam dirinya bahwa orang yang bersifat keibuan itu akan kembali. Kebiasaan-kebiasaan, konsistensi, dan kontinuitas sehari-hari dalam lingkungan bayi merupakan dasar paling awal bagi berkembangnya suatu perasaan identitas psikososial. Melalui kontinuitas pengalaman dengan orang-orang dewasa bayi belajar menggantungkan diri dan percaya pada mereka; tetapi mungkin yang lebih penting, ia belajar mempercayai dirinya sendiri. Kepastian semacam itu harus mengungguli lawan negatif dari kepercayaan dasar — yakni, kecurigaan dasar yang, pada pokoknya adalah esensial bagi perkembangan manusia.

Perbandingan yang tepat antara kepercayaan dasar dan kecurigaan dasar mengakibatkan tumbuhnya pengharapan. “Pengharapan merupakan kebajikan paling awal dan paling esensial yang melekat dalam hidup” (1964, hlm. 115). Fondasi pengharapan terletak pada hubungan-hubungan pertama dengan orangtua keibuan dan dapat dipercaya yang responsif terhadap kebutuhan-kebutuhannya, yang memberikan pengalaman-pengalaman sebegitu memuaskan, seperti ketenangan, makanan, dan kehangatan. Semua verifikasi pengharapan berasal dari dunia-ibu dan anak. Melalui sejumlah pengalaman yang terus meningkat di mana pengharapan bayi diverifikasikan, ia memperoleh inspirasi tentang keberpengharapan baru. Pada saat yang sama, ia mengembangkan kemampuan untuk membuang pengharapan-pengharapan yang dikecewakan, dan menemukan pengharapan dalam tujuan-tujuan dan kemungkinan-kemungkinan di masa mendatang. Dia mempelajari pengharapan-pengharapan macam manakah yang terdapat dalam batas-batas kemungkinannya dan mengarahkan pengharapan-pengharapannya selaras dengan batas kemungkinan tersebut. Manakala ia. menjadi dewasa, ia menyadari bahwa pengharapan-pengharapan yang pernah diberi prioritas tinggi kini digantikan dengan serangkaian pengharapan yang bertingkat lebih tinggi atau yang lebih maju. Erikson menyatakan, “Pengharapan adalah keyakinan yang bersifat menetap akan kemungkinan dicapainya hasrat-hasrat kuat, terlepas dari dorongan-dorongan dan kegemaran-kegemaran suram yang menandai permulaan eksistensi” (1964, hlm. 118).

Tahap pertama kehidupan ini, masa bayi, merupakan tahap ritualisasi numinous. Yang dimaksudkan Erikson dengan numinous adalah perasaan bayi akan kehadiran ibu yang bersifat keramat, pandangannya, pegangannya, sentuhannya, senyumannya, teteknya, caranya memanggil dengan nama, pendek kata “pengakuannya” atas dirinya. Interaksi-interaksi yang berulangulang ini bersifat sangat pribadi namun diritualisasikan dalam kebudayaan. Pengakuan ibu terhadap bayi meneguhkan dan meyakinkan bayi serta hubungan timbal baliknya dengan ibu. Tiadanya pengakuan dapat menyebabkan keterasingan dalam kepribadian bayi; sejenis perasaan bahwa is dipisahkan (separation) dan dibuang (abandonment).
Masing-masing tahap awal ini membentuk suatu ritualisasi yang dilanjutkan ke masa kanak-kanak dan menambah ritual- ritual masyarakat. Bentuk ritual numinous yang menyimpang terungkap dalam kehidupan dewasa berupa pemujaan terhadap pahlawan secara berlebih-lebihan atau idolisme.

II. Otonomi versus Perasaan Malu dan Keragu-raguan
Pada tahap kedua kehidupan (tahap muskular-anal dalam skema psikoseksual) anak mempelajari apakah yang diharapkan dari dirinya, apakah kewajiban-kewajiban dan hak-haknya disertai apakah pembatasan-pembatasan yang dikenakan pada dirinya. Perjuangan anak terhadap pengalaman-pengalaman baru dan yang lebih berorientasi pada kegiatan, menimbulkan sejenis tuntutan ganda pada anak; tuntutan untuk mengontrol diri sendiri, dan tuntutan untuk menerima kontrol dari orang-orang lain dalam lingkungan. Untuk mengendalikan sifat penuh kemauan anak, orang-orang dewasa akan memanfaatkan kecenderungan universal pada manusia untuk merasa malu; namun mereka akan mendorong anak untuk mengembangkan perasaan otonomi dan akhirnya mandiri. Orang-orang dewasa yang melakukan kontrol juga harus benar-benar bersikap membombong. Anak harus didorong untuk mengalami situasi-situasi yang menuntut otonomi

dalam melakukan pilihan bebas. Penanaman/rasa malu secara berlebihan hanya akan menyebabkan anak tidak memiliki rasa malu atau memaksanya mencoba melarikan diri dari hal-hal dengan berdiam diri, tidak suka berterus terang, dan serta bertindak dengan diam-diam. Inilah tahap saat berkembangnya kebebasan pengungkapan — diri dan sifat penuh kasih sayang. Rasa mampu mengendalikan diri akan menimbulkan dalam diri anak rasa memiliki kemauan baik dan bangga yang bersifat menetap; sebaliknya rasa kehilangan kontrol-diri dapat menyebabkan perasaan malu dan ragu-ragu yang bersifat menetap.

Nilai kemauan muncul pada tahap kedua kehidupan ini. Kemauan-diri yang terlatih dan contoh kemauan luhur yang diperlihatkan oleh orang-orang lain merupakan dua sumber dari mana nilai kemauan berkembang. Anak belajar dari dirinya sendiri dan dari orang-orang lain apa yang diharapkan dan apa yang boleh diharapkan. Kemauan menyebabkan anak secara bertahap mampu meneri ma peraturan huk um dan kewajiban. Unsur-unsur kemauan bertambah secara berangsur-angsur melalui pengalaman-pengalaman yang melibatkan kesadaran dan perhatian, manipulasi, verbalisasi, dan lokomosi atau gerak. Kemauan adalah kemampuan untuk membuat pilihan-pilihan bebas, memutuskan, melatih mengendalikan diri, dan bertindak, yang terus meningkat.

Erikson menyebut ritualisasi tahap ini sifat bijaksana (judicious), karena anak mulai menilai dirinya sendiri dan orangorang lain serta membedakan antara benar dan salah. Ia mengembangkan kemampuan menghayati suatu rasa benar atau salah pada tindakan-tindakan dan kata-kata tertentu, yang menyiapkan kemampuan untuk mengalami perasaan bersalah dalam tahap berikutnya. Anak juga belajar membedakan antara “jenis kami” (our kind) dan orang-orang lain yang dinilai berbeda; karena itu orang-orang lain yang tidak sama dengan jenisnya sendiri secara otomatis dinilai salah atau buruk. Ini merupakan dasar ontogenetik dari keterasingan yang melanda seluruh dunia yang disebut spesies yang terpecah ( divided species). Dalam tulisan-tulisan lain, Erikson menyebut ini pseudospesies, yakni sumber prasangka di dalam diri manusia.

Periode ritualisasi sifat bijaksana dalam masa kanak-kanak ini dalam siklus kehidupan merupakan sumber ritual pengadilan pada masa dewasa yang tercermin dalam pemeriksaan di ruang pengadilan dan prosedur-prosedur dengan mana putusan salah atau tak bersalah ditetapkan. Penyimpangan ritualisme pada tahap ini adalah legalisme, yakni pengagungan huruf-huruf ketentuan hukum daripada semangatnya, pengutamaan hukuman daripada belas kasih. Orang yang legalistik mendapatkan kepuasan melihat orang yang di-nyatakan bersalah dihukum dan direndahkan, terlepas apakah hal itu merupakan tujuan hukum atau bukan.

III. Inisiatif versus Kesalahan
Tahap psikososial ketiga, yang setara dengan tahap lokomotor-genital dalam psikoseksualitas, ialah tahap inisiatif, suatu masa untuk memperluas penguasaan dan tanggung jawab. Selama tahap ini anak menampilkan diri lebih maju dan lebih “seimbang” secara fisik maupun kejiwaan. Inisiatif bersama-sama dengan otonomi memberikan kepada anak suatu kualitas sifat mengejar, merencanakan, serta kebulatan tekad dalam menyelesaikan tugas-tugas dan meraih tujuan-tujuan. Bahaya dari tahap ini adalah perasaan bersalah yang dapat menghantui anak karena terlampau bergairah memikirkan tujuan-tujuan, termasuk fantasi-fantasi genital, menggunakan cara-cara agresif serta manipulatif untuk mencapai tujuan-tujuan ini. Anak mulai ingin sekali belajar, dan mampu belajar dengan baik pada usia ini; ia berjuang untuk tumbuh dalam arti melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menunjukkan prestasi-prestasi.

Tujuan adalah nilai yang menonjol pada tahap perkembangan ini. Kegiatan utama anak dalam tahap ini adalah bermain, dan tujuan tumbuh dari kegiatan bermainnya, eksplorasi-eksplorasinya, usaha-usaha dan kegagalan-kegagalannya, serta eksperimentasinya dengan alat-alat permainannya. Di samping permainan-permainan fisik, ia melakukan juga permainan-permainan kejiwaan dengan memerankan peranan orangtua dan orang-orang dewasa lain dalam suatu permainan khayalan. Dengan meniru gambaran-gambaran orang dewasa ini sedikit banyak anak mengalami bagaimana rasanya menjadi seperti mereka. Permainan memberikan kepada anak sejenis kenyataan perantara; ia bisa belajar tentang tujuan benda-benda, hubungan antara dunia dalam dan dunia luar, dan bagaimana ingatan-ingatan masa lampau bisa diterapkan pada tujuan-tujuan masa depan. Dengan demikian, permainan yang bersifat khayalan dan bebas sangat penting bagi perkembangan anak. “Maka, tujuan adalah keberanian untuk merumuskan dan mengejar tujuan-tujuan yang bernilai yang bebas dari hambatan fantasi-fantasi kanak-kanak, rasa bersalah dan ketakutan akan hukuman” (1964, hlm. 122).

Masa bermain ini bercirikan ritualisasi dramatik. Anak secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan bermain, memakai pakaian, meniru kepribadian-kepribadian orang dewasa, dan berpura-pura menjadi apa saja mulai dari seekor anjing sampai seorang astronot. Tahap ritualisasi awal ini, memberikan unsur dramatik dalam ritual-ritual (misalnya drama yang pada dasarnya merupakan suatu ritual) sepanjang sisa hidup anak. Keterasingan batin yang dapat timbul pada tahap masa kanak-kanak ini ialah suatu perasaan bersalah.

Padanan negatif ritualisasi dramatik adalah ritualisme impersonasi sepanjang hidup. Seorang dewasa memainkan peranan-peranan atau melakukan tindakan-tindakan untuk menampilkan suatu gambaran yang tidak mencerminkan kepribadiannya yang sejati.

IV. Kerajinan versus Inferioritas
Pada tahap keempat dalam proses epigenetik ini (dalam skema Freud, periode laten) anak harus belajar mengontrol imajinasinya yang sangat kaya, dan mulai menempuh pendidikan formal. Ia mengembangkan suatu sikap rajin dan mempelajari ganjaran dari ketekunan dan kerajinan. Perhatian pada alat-alat permainan dan kegiatan bermain berangsur-angsur digantikan oleh perhatian pada situasi-situasi produktif dan alat-alat serta perkakas-perkakas yang dipakai untuk bekerja. Bahaya dari tahap ini ialah anak bisa mengembangkan perasaan rendah diri apabila ia tidak berhasil (atau menjadi merasa demikian) menguasai tugas-tugas yang dipilihnya atau yang diberikan oleh guru-guru dan orangtuanya.

Nilai kompetensi muncul pada tahap kerajinan ini. Nilai-nilai dari tahap-tahap sebelumnya (pengharapan, kemauan, dan tujuan) memberikan kepada anak suatu gambaran tentang tugas-tugas di masa mendatang, meskipun belum sangat spesifik. Kini anak membutuhkan pengajaran spesifik tentang metode-metode fundamental agar bisa menyesuaikan diri dengan gaya kehidupan teknis. la siap dan punya kemauan untuk mempelajari dan memakai perkakas-perkakas, mesin-mesin, serta metode-metode sebagai persiapan ke arah pekerjaan orang dewasa. Segera setelah ia mengembangkan kecerdasan dan kapasitas-kapasitas secukupnya untuk bekerja, penting bahwa ia menerjunkan diri pada pekerjaan ini untuk mencegah timbulnya perasaan inferioritas dan regresi ego. Dalam arti ini, pekerjaan meliputi banyak dan beraneka macam bentuk, seperti pergi ke sekolah, melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, memikul berbagai tanggungjawab, belajar musik, mempelajari aneka pekerjaan tangan, dan ikut dalam permainan-permainan dan olah raga-olah raga yang membutuhkan ketrampilan. Yang penting adalah bahwa anak harus menggunakan kecerdasan dan energinya yang melimpah untuk aktivitas dan tujuan tertentu.

Rasa kompetensi dicapai dengan meneijunkan diri pada pekerjaan dan penyelesaian tugas-tugas, yang pada akhirnya mengembangkan kecakapan kerja. Asas-asas kompetensi mempersiapkan anak pada suatu perasaan cakap bekerja di masa mendatang; tanpa itu anak akan merasa rendah diri. Selama usia ini, anak ingin sekali mempelajari teknik-teknik produktivitas. “Maka, kompetensi merupakan penggunaan ketrampilan dan kecerdasan untuk menyelesaikan tugas-tugas, yang tidak terhambat oleh perasaan rendah diri serba kekanak-kanakan” (1964, hlm. 124).
Usia sekolah merupakan tahap ritualisasi formal, masa anak belajar bekerja secara metodis. Mengamati dan mempelajari metode-metode kerja memberikan kepada anak suatu rasa memiliki kualitas berupa ketrampilan dan kesempurnaan. Apa saja yang dilakukan oleh anak — entah ketrampilan-ketrampilan di sekolah atau tugas-tugas di rumah — akan dikerjakannya dengan baik.
Penyimpangan ritualismenya di masa dewasa ialah formalisme, berwujud pengulangan formalitas-formalitas yang tidak berarti dan ritual-ritual kosong.

V. Identitas versus Kekacauan Identitas
Selama masa adolesen, individu mulai merasakan suatu perasaan tentang identitasnya sendiri, perasaan bahwa ia adalah manusia unik, namun siap untuk memasuki suatu peranan yang berarti di tengah masyarakat, entah peranan ini bersifat menyesuaikan diri atau bersifat memperbaharui. Sang pribadi mulai menyadari sifat-sifat yang melekat pada dirinya sendiri, seperti aneka kesukaan dan ketidaksukaannya, tujuan-tujuan yang dikejarnya di masa depan, kekuatan dan hasrat untuk mengontrol nasibnya sendiri. Inilah masa dalam kehidupan ketika orang ingin menentukan siapakah ia pada saat sekarang dan ingin menjadi apakah ia di masa yang akan datang. Inilah masa untuk membuat rencana-rencana karier.

Daya penggerak batin dalam rangka pembentukan identitas ialah ego dalam aspek-aspeknya yang sadar maupun tak sadar. Pada tahap ini ego memiliki kapasitas untuk memilih dan mengintegrasikan bakat-bakat, kemampuan-kemampuan, dan ketrampilan-ketrampilan dalam melakukan identifikasi dengan orang-orang yang sependapat, dan dalam melakukan adaptasi dengan lingkungan sosial, serta menjaga pertahanan-pertahanannya terhadap berbagai ancaman dan kecemasan, karena ia telah mampu memutuskan impuls-impuls, kebutuhan-kebutuhan, dan perananperanan manakah yang paling cocok dan efektif. Semua ciri yang dipilih oleh ego ini dihimpun dan diintegrasikan oleh ego serta membentuk identitas psikososial seseorang.

Karena peralihan yang sulit dari masa kanak-kanak ke masa dewasa di satu pihak dan karena kepekaan terhadap perubahan sosial dan historis di lain pihak, maka selama tahap pembentukan identitas seorang remaja, mungkin merasakan penderitaan paling dalam dibandingkan pada masa-masa lain akibat kekacauan peranan-peranan atau kekacauan identitas. Keadaan ini dapat menyebabkan orang merasa terisolasi, hampa, cemas, dan bimbang. Remaja merasa bahwa ia harus membuat keputusan-keputusan penting tetapi belum sanggup melakukannya. Para remaja mungkin merasa bahwa masyarakat memaksa mereka untuk membuat keputusan-keputusan, sehingga mereka justru menjadi semakin menentang. Mereka sangat peka terhadap cara orang-orang lain memandang mereka, dan menjadi mudah tersinggung dan merasa malu.

Selama kekacauan identitas, remaja mungkin merasa bahwa ia mundur bukannya maju, dan, pada kenyataannya suatu kemunduran periodis ke sifat kanak-kanak kiranya merupakan suatu alternatif menyenangkan terhadap keterlibatan kompleks dalam masyarakat orang dewasa yang dituntut darinya. Tingkah laku remaja tidak konsisten dan tidak dapat diprediksikan selama masa kacau ini. Pada suatu saat ia menutup diri terhadap siapa pun karena takut ditolak, dikecewakan, atau disesatkan. Pada saat berikutnya ia mungkin ingin menjadi pengikut, pencinta, atau murid, dengan tidak menghiraukan konsekuensi-konsekuensi dari komitmennya itu.

Istilah krisis identitas menunjuk pada perlunya mengatasi kegagalan yang bersifat sementara itu untuk selanjutnya membentuk suatu identitas yang stabil, atau sebaliknya suatu kekacauan peranan. Masing-masing tahap yang berturut-turut itu, pada kenyataannya, “merupakan suatu potensi krisis disebabkan karena terjadinya perubahan yang radikal dalam perspektif’ (1968, hlm. 96). Akan tetapi agaknya secara istimewa krisis identitas adalah berbahaya karena seluruh masa depan individu generasi berikutnya sepertinya tergantung pada penyelesaian krisis ini.

Yang juga sangat mengganggu adalah berkembangnya identitas negatif, yakni perasaan memiliki sekumpulan sifat yang secara potensial buruk atau tidak berharga. Cara yang sangat lazim dipakai orang untuk mengatasi identitas negatif ialah memproyeksikan sifat-sifat yang buruk itu kepada orang-orang lain. “Merekalah yang buruk, bukan saya.” Proyeksi serupa itu dapat mengakibatkan banyak patologi sosial termasuk prasangka dan kejahatan, serta diskriminasi terhadap berbagai kelompok orang,

Keterasingan yang disebabkan karena tidak dimilikinya suatu ideologi yang terintegrasi adalah kekacauan identitas. Penyimpangan ritualisasi ideologi yang mungkin terjadi adalah totalisme. Totalisme ialah preokupasi fanatik dan eksklusif dengan apa yang kelihatannya sungguh-sungguh benar atau ideal.

VI. Keintiman versus Isolasi
Dalam tahap ini, orang-orang dewasa awal (young adults) siap dan ingin menyatukan identitasnya dengan orang-orang lain. Mereka mendambakan hubungan-hubungan yang intim-akrab, dan persaudaraan, serta siap mengembangankan daya-daya yang dibutuhkan untuk memenuhi komitmen-komitmen ini meskipun mereka mungkin harus berkorban. Sekarang untuk pertama kalinya dalam kehidupan mereka, anak-anak muda itu dapat mengembangkan genitalitas (genitality) seksual yang sesungguhnya dalam hubungan timbal balik dengan mitra yang dicintai. Kehidupan seks dalam tahap-tahap sebelumnya terbatas pada menemukan identitas seksual dan berjuang menjalin hubungan-hubungan akrab yang bersifat sementara. Agar memiliki arti sosial yang bersifat menetap maka genitalitas membutuhkan seseorang untuk dicintai dan diajak mengadakan hubungan-hubungan seksual, dan dengan siapa seseorang dapat berbagi rasa dalam suatu hubungan kepercayaan. Bahaya pada tahap keintiman ini adalah isolasi, yakni kecenderungan menghindari hubungan karena orang tidak mau melibatkan diri dalam keintiman. Suatu perasaan isolasi yang bersifat sementara memang perlu membuat pilihan-pilihan, tetapi, tentu saja, juga dapat menimbulkan masalah-masalah kepribadian berat.

Nilai cinta muncul selama tahap perkembangan keintiman. Nilai dominan yang bersifat universal ini, yakni cinta, muncul dalam banyak bentuk selama tahap-tahap sebelumnya, mulai dengan cinta bayi terhadap ibunya, kemudian cinta birahi pada remaja, dan akhirnya cinta yang diungkapkan dalam bentuk kepedulian terhadap orang-orang lain pada orang dewasa. Meskipun cinta sudah nampak dalam tahap-tahap sebelumnya, namun perkembangan keintiman yang sejati hanya muncul setelah menginjak usia remaja. Orang-orang dewasa awal kini mampu melibatkan diri dalam hubungan bersama di mana mereka saling berbagi hidup dengan seorang mitra yang intim. Erikson menulis, “Maka, cinta adalah pengabdian timbal balik yang mengalahkan antagonisme-antagonisme yang melekat dalam fungsi yang terpecah” (1964, hlm. 129). Meskipun identitas individual seseorang dipertahankan dalam suatu hubungan keintiman bersama, namun kekuatan egonya tergantung pada kesiapan mitranya untuk berbagi peran dalam membesarkan anak-anak, berbagi produktivitas, dan berbagi pandangan tentang hubungan mereka.

Ritualisasi pada tahap ini ialah afiliatif, yakni berbagi bersama dalam pekerjaan, persahabatan, dan cinta. Ritualismenya, yakni elitisme, terungkapkan lewat dengan pembentukan kelompok-kelompok eksklusif yang merupakan suatu bentuk narsisisme komunal.

VII. Generativitas versus Stagnasi
Ciri tahap generativitas adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan — keturunan, produk-produk, ide-ide, dan sebagainya — serta pembentukan dan penetapan garis-garis pedoman untuk generasi-generasi mendatang. Transmisi nilai-nilai sosial ini diperlukan untuk memperkaya aspek psikoseksual dan aspek psikososial kepribadian. Apabila generativitas lemah atau tidak diungkapkan maka kepribadian akan mundur, dan mengalami pemiskinan serta stagnasi.

Nilai pemeliharaan (care) berkembang dalam tahap ini. Pemeliharaan terungkap dalam kepedulian seseorang pada orang-orang lain, dalam keinginan memberikan perhatian pada mereka yang membutuhkannya serta berbagi dan membagi pengetahuan dan pengalaman dengan mereka. Ini tercapai lewat kegiatan membesarkan anak dan mengajar, memberi contoh, dan mengawasi. Manusia sebagai suatu spesies memiliki kebutuhan inheren untuk mengajar, suatu kebutuhan yang dimiliki oleh semua orang dalam setiap bidang pekerjaan. Manusia mencapai kepuasan dan pemenuhan dengan mengajar anak-anak, orang-orang dewasa, bawahan-bawahan, bahkan binatang-binatang. Fakta-fakta, logika, dan kebenaran-kebenaran terpelihara dari generasi ke generasi berkat semangat mengajar ini. Aktivitas memelihara dan mengajar menjamin kelangsungan hidup kebudayaan, lewat pengulangan atas adat-istiadat, ritual-ritual, dan legenda-legendanya. Kemajuan setiap kebudayaan ada di tangan orang-orang yang memiliki cukup kerelaan untuk mengajar dan menjalani kehidupan yang patut dicontoh. Aktivitas mengajar juga menumbuhkan dalam diri manusia suatu perasaan vital bahwa mereka dibutuhkan oleh orang-orang lain, suatu perasaan bahwa diri mereka berarti, yang membuat mereka tidak terlalu asyik dan terbenam dalam diri mereka sendiri. Selama masa kehidupan seseorang banyak pengalaman dan pengetahuan berhasil dikumpulkan, seperti pendidikan, cinta, pekerjaan, filsafat, dan gaya hidup. Semua aspek kehidupan ini harus dipelihara dan dilindungi, sebab semua itu merupakan pengalaman-pengalaman yang berharga. Pengalaman-pengalaman ini dipelihara dengan cara diteruskan dan diberikan kepada orang-orang lain.

AMIRBLOGGER1991@YMAIL.COM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar